Pedagang di Pasar Besi Pekalongan Utara pelihara ikan nila di genangan air rob yang terletak di komplek pasar.
Baca Juga: harga besi hollow
Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk protes terhadap Pemerintah Kota Pekalongan.
Protes dilakukan karena Pasar Besi yang sudah ada sejak 1984 itu tak diperhatikan kondisinya oleh Pemkot.
Bangunan hampir rubuh, serta rusaknya fasilitas membuat sejumlah pedagang meninggalkan kiosnya.
Zakaria (49) warga Pekalongan Utara, satu di antara pedagang menuturkan kepada Tribunjateng.com, sudah puluhan tahun Pasar Besi tak diperhatikan oleh Pemkot.
“Sampai saya memelihara ikan nila genangan air rob, biar saja biar pemerintah tahu keadaan Pasar Besi ini memprihatinkan karena rob,” jelasnya, Senin (12/8/2019).
Dilanjutkannya, Pasar Besi mengalami masa jaya pada 2005 lalu, di mana pedagang bisa menjual 2 ton besi setiap hari.
“Kalau sekarang paling di bawah 1 kwintal, itu pun tidak mesti. Melihat kondisi pasar seperti ini, banyak pedagang meninggalkan lapak,” paparnya.
Menurutnya, dari 50 pedagang yang masih bertahan dengan kondisi kerusakan fasilitas dan sepinya pengunjung hanya 10 pedagang.
“Kondisi pasar seperti ini ditambah adanya perusahaan besar yang menjual besi, membuat kami semakin sengsara. Bagaimana tidak, kami harus mencukupi keluarga, belum lagi menguruk lapak agar tidak terendam. Ditambah persaingan bisnis dengan perusahaan besar,” tutur Zakaria.
Sementara itu Tolip (35) pedagang lainya, hanya bisa pasarah dengan kondisi pasar yang tak terurus.
Artikel Terkait: ukuran besi beton
“Mau bagaimana lagi, bisa dilihat sendiri kondisinya. Padahal beberpa tahun lalu pasar ini menjadi pemasok besi untuk perbaikan kapal di Kota Pekalongan, namun ya sekarang seperti ini tak terurus,” tambahnya.
Senin, 26 Agustus 2019
Inilah Kisah Android, dari OS Kamera hingga Logo yang Terinspirasi Toilet
Siapa tak kenal Android? Sistem operasi mobile berlogo robot hijau ini adalah yang paling banyak ditemui di berbagai gadget modern. Maklumlah, pangsa Android di pasaran OS smartphone mencapai 86,7 persen pada Juni 2019, jauh lebih besar dari iOS yang hanya 13,3 persen di urutan kedua, menurut data firma riset IDC.
Baca Juga: harga closet duduk murah
Android tak begitu saja menjelma jadi pemain dominan. OS besutan Google tersebut telah mengalami perjalanan panjang selama lebih dari 10 tahun. Awalnya untuk kamera Sebuah perusahaan bernama Android Inc. berdiri pada 2003 di Palo Alto, California.
Didirikan oleh Rich Miner, Nick Sears, Chris White, dan Andy Rubin, Android Inc. sesumbar akan membuat "perangkat mobile pintar" yang hari ini lazim disebut sebagai "smartphone".
Awalnya, Android OS dirancang sebagai sistem operasi kamera digital. Android OS yang terpasang di kamera bisa langsung dihubungkan ke PC tanpa kabel (wireless) dengan mengoneksikan ke Android Data Center, sebagai server penyimpanan foto online.
Tapi pada 2004, pangsa pasar kamera digital menurun. Android Inc. mencoba menanamkan software bikinannya ke dalam ponsel. "Platform yang sama, sistem operasi yang sama dengan yang kami rancang untuk kamera, berubah menjadi Android untuk smartphone," ujar Rubin dalam sebuah kesempatan.
Babak baru dimulai pada 2005, kala Android Inc. diakuisisi Google. Pengembangan Android OS berlanjut dengan basis Linux. Rubin kemudian menjabat sebagai kepala Android sejak 2013 hingga mundur pada 2014, dan mendirikan startup sendiri.
Sejak diakuisisi Google, Android mulai mencari celah komersial dengan menawarakan layanan sebagai OS open-source ke pihak ketiga. Essential, Smartphone Buatan Bapak Android Resmi Meluncur Ciri khas nama makanan "manis" Salah satu taman di kantor pusat Google yang terletak di Mountain View, California, AS.
Dari tahun ke tahun, penggemar Android menantikan nama versi Android baru yang disematkan. Sebab, Android punya keunikan, menggunakan nama makanan manis atau kudapan sebagai nama versi sistem operasinya.
Tapi pada awalnya, Android 1.0 tidak memiliki kode nama tersebut. Barulah pada 2009, ketika merilis Android versi 1.5, Google memberikan nama versi OS tersebut dengan nama Cupcake.
Artikel Terkait: ukuran spandek
Cupcake yang diawali dengan huruf "C" meneruskan penamaan Android Alfa dan Beta sebelumnya. Sejak saat itu, penamaan versi Android terbaru selalu menggunakan nama makanan manis, sesuai urutan abjad. "Karena perangkat membuat hidup kita manis, setiap versi Android diikuti dengan nama dengan kudapan," ujar Google saat perilisan Android 4.4 KitKat, dikuti dari Android Authority.
Baca Juga: harga closet duduk murah
Android tak begitu saja menjelma jadi pemain dominan. OS besutan Google tersebut telah mengalami perjalanan panjang selama lebih dari 10 tahun. Awalnya untuk kamera Sebuah perusahaan bernama Android Inc. berdiri pada 2003 di Palo Alto, California.
Didirikan oleh Rich Miner, Nick Sears, Chris White, dan Andy Rubin, Android Inc. sesumbar akan membuat "perangkat mobile pintar" yang hari ini lazim disebut sebagai "smartphone".
Awalnya, Android OS dirancang sebagai sistem operasi kamera digital. Android OS yang terpasang di kamera bisa langsung dihubungkan ke PC tanpa kabel (wireless) dengan mengoneksikan ke Android Data Center, sebagai server penyimpanan foto online.
Tapi pada 2004, pangsa pasar kamera digital menurun. Android Inc. mencoba menanamkan software bikinannya ke dalam ponsel. "Platform yang sama, sistem operasi yang sama dengan yang kami rancang untuk kamera, berubah menjadi Android untuk smartphone," ujar Rubin dalam sebuah kesempatan.
Babak baru dimulai pada 2005, kala Android Inc. diakuisisi Google. Pengembangan Android OS berlanjut dengan basis Linux. Rubin kemudian menjabat sebagai kepala Android sejak 2013 hingga mundur pada 2014, dan mendirikan startup sendiri.
Sejak diakuisisi Google, Android mulai mencari celah komersial dengan menawarakan layanan sebagai OS open-source ke pihak ketiga. Essential, Smartphone Buatan Bapak Android Resmi Meluncur Ciri khas nama makanan "manis" Salah satu taman di kantor pusat Google yang terletak di Mountain View, California, AS.
Dari tahun ke tahun, penggemar Android menantikan nama versi Android baru yang disematkan. Sebab, Android punya keunikan, menggunakan nama makanan manis atau kudapan sebagai nama versi sistem operasinya.
Tapi pada awalnya, Android 1.0 tidak memiliki kode nama tersebut. Barulah pada 2009, ketika merilis Android versi 1.5, Google memberikan nama versi OS tersebut dengan nama Cupcake.
Artikel Terkait: ukuran spandek
Cupcake yang diawali dengan huruf "C" meneruskan penamaan Android Alfa dan Beta sebelumnya. Sejak saat itu, penamaan versi Android terbaru selalu menggunakan nama makanan manis, sesuai urutan abjad. "Karena perangkat membuat hidup kita manis, setiap versi Android diikuti dengan nama dengan kudapan," ujar Google saat perilisan Android 4.4 KitKat, dikuti dari Android Authority.
Alasan Revitalisasi Stadion Sangkuriang Cimahi Dimulai dengan Membangun Basement
Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Cimahi memastikan anggaran perbaikan Stadion Sangkuriang yang tersedia difokuskan untuk pembangunan struktur bangunan dan tempat parkir basement. Hasil perhitungan, Bantuan Provinsi Jawa Barat Rp 100 miliar belum bisa menyentuh bangunan utama stadion.
Kepala Bidang Tata Bangunan Dinas PUPR Kota Cimahi, Deni Hendiani mengatakan hal itu, Minggu 25 Agustus 2019. "Anggaran Rp100 miliar hanya cukup untuk struktur basement sekaligus pengerukannya, sulit kalau untuk stadionnya," ujarnya.
Rencananya, pengerjaan fisik perbaikan stadion yang ada di Jalan Sangkuriang, Kota Cimahi itu bakal dilaksanakan tahun 2020 mendatang.
Jika pengerjaan dialihkan ke bangunan utama struktur terlebih dahulu, lanjut Deni, maka bisa menimbulkan bermasalah lain karena tidak tersedianya lahan parkir bagi pengunjung ke stadion.
Baca Juga: genteng metal
"Kalau inginnya stadion dulu atau Rp100 miliar itu selesai saja, ya tidak bisa. Stadionnya beres tapi nanti tidak ada lahan parkir, artinya menimbulkan masalah baru," katanya.
Kebutuhan material untuk pengerjaan fisik tahun depan dengan anggaran Rp100 miliar di antaranya tiang pancang, dinding full beton, dan besi kerangka basement.
"Itu kebutuhan utamanya, nanti bagian basement akan dilapisi beton secara keseluruhan. Tiang pancangnya harus kokoh, jadi pakai material terbaik," tuturnya.
Berdasarkan Detail Engineering Design (DED) yang dibuat pada tahun 2018, kebutuhan anggaran perbaikan Stadion Sangkuriang sebesar Rp 278 miliar.
"Perbaikan akan ikut DED, jadi tidak bisa seenaknya mengubah DED. Memang kebutuhan anggarannya kurang, tapi bisa diakali dari pendampingan APBD," jelasnya.
Selain membuat basement, pihaknya juga bakal membongkar eksisting bangunan GOR Sangkuriang. Posisinya bakal dipindah ke depan pintu gerbang utama Stadion Sangkuriang.
"Kita bongkar dulu GOR yang sekarang, nanti digeser ke depan gerbang utama jadi disambungkan dengan koridor," tuturnya.
Diberitakan Pikiran Rakyat sebelumnya, Wali Kota Cimahi Ajay M Priatna memastikan revitalisasi Stadion Sangkuriang akan berlangsung mulai tahun 2020 mendatang.
"InsyaAllah mulai tahun 2020 pembangunan fisik untuk perbaikan Stadion Sangkuriang bakal dilakukan," ujarnya.
Tak hanya stadion, revitalisasi yang bakal dilakukan termasuk peningkatan sarana prasarana pendukung. Terutama, pembuatan lahan parkir di basement dan merobohkan Gor Sangkuriang untuk menjadi area sarana olahraga terbuka.
Namun, perbaikan kemungkinan tidak akan langsung rampung seluruhnya. Sebab, Pemkot Cimahi baru mengantongi anggaran revitalisasi Sangkuriang yang bersumber dari bantuan Pemerintah Provinsi Jawa Barat sebesar Rp100 miliar. Bantuan tersebut juga menanti kepastian karena masih dalam pembahasan APBD Provinsi Jabar 2020.
"Kalau dari APBD Kota Cimahi, jujur saja agak berat. Jadi upayakan melalui bantuan, akan coba mengajukan Kemenpora. Kalau secara lisan sudah berbicara tinggal ditindaklanjuti," ucapnya.
Ajay berharap masyarakat bisa bersabar menunggu proses revitalisasi Sangkuriang sebagai stadion kebanggaan Kota Cimahi sebab anggaran yang diperlukan sangat besar. Apalagi, Kota Cimahi kini memiliki klub sepakbola PSKC yang sedang berlaga di Super Jalapa Liga 3 dengan target lolos ke Liga 2 pada musim depan, sehingga bakal membutuhkan stadion homebase.
Artikel Terkait: harga genteng
"Kita upayakan agar selesai sepenuhnya, meski bertahap tapi tidak terlalu lama. Masyarakat nanti bisa menikmati fasilitas yang ada di stadion itu," tandasnya.
Kepala Bidang Tata Bangunan Dinas PUPR Kota Cimahi, Deni Hendiani mengatakan hal itu, Minggu 25 Agustus 2019. "Anggaran Rp100 miliar hanya cukup untuk struktur basement sekaligus pengerukannya, sulit kalau untuk stadionnya," ujarnya.
Rencananya, pengerjaan fisik perbaikan stadion yang ada di Jalan Sangkuriang, Kota Cimahi itu bakal dilaksanakan tahun 2020 mendatang.
Jika pengerjaan dialihkan ke bangunan utama struktur terlebih dahulu, lanjut Deni, maka bisa menimbulkan bermasalah lain karena tidak tersedianya lahan parkir bagi pengunjung ke stadion.
Baca Juga: genteng metal
"Kalau inginnya stadion dulu atau Rp100 miliar itu selesai saja, ya tidak bisa. Stadionnya beres tapi nanti tidak ada lahan parkir, artinya menimbulkan masalah baru," katanya.
Kebutuhan material untuk pengerjaan fisik tahun depan dengan anggaran Rp100 miliar di antaranya tiang pancang, dinding full beton, dan besi kerangka basement.
"Itu kebutuhan utamanya, nanti bagian basement akan dilapisi beton secara keseluruhan. Tiang pancangnya harus kokoh, jadi pakai material terbaik," tuturnya.
Berdasarkan Detail Engineering Design (DED) yang dibuat pada tahun 2018, kebutuhan anggaran perbaikan Stadion Sangkuriang sebesar Rp 278 miliar.
"Perbaikan akan ikut DED, jadi tidak bisa seenaknya mengubah DED. Memang kebutuhan anggarannya kurang, tapi bisa diakali dari pendampingan APBD," jelasnya.
Selain membuat basement, pihaknya juga bakal membongkar eksisting bangunan GOR Sangkuriang. Posisinya bakal dipindah ke depan pintu gerbang utama Stadion Sangkuriang.
"Kita bongkar dulu GOR yang sekarang, nanti digeser ke depan gerbang utama jadi disambungkan dengan koridor," tuturnya.
Diberitakan Pikiran Rakyat sebelumnya, Wali Kota Cimahi Ajay M Priatna memastikan revitalisasi Stadion Sangkuriang akan berlangsung mulai tahun 2020 mendatang.
"InsyaAllah mulai tahun 2020 pembangunan fisik untuk perbaikan Stadion Sangkuriang bakal dilakukan," ujarnya.
Tak hanya stadion, revitalisasi yang bakal dilakukan termasuk peningkatan sarana prasarana pendukung. Terutama, pembuatan lahan parkir di basement dan merobohkan Gor Sangkuriang untuk menjadi area sarana olahraga terbuka.
Namun, perbaikan kemungkinan tidak akan langsung rampung seluruhnya. Sebab, Pemkot Cimahi baru mengantongi anggaran revitalisasi Sangkuriang yang bersumber dari bantuan Pemerintah Provinsi Jawa Barat sebesar Rp100 miliar. Bantuan tersebut juga menanti kepastian karena masih dalam pembahasan APBD Provinsi Jabar 2020.
"Kalau dari APBD Kota Cimahi, jujur saja agak berat. Jadi upayakan melalui bantuan, akan coba mengajukan Kemenpora. Kalau secara lisan sudah berbicara tinggal ditindaklanjuti," ucapnya.
Ajay berharap masyarakat bisa bersabar menunggu proses revitalisasi Sangkuriang sebagai stadion kebanggaan Kota Cimahi sebab anggaran yang diperlukan sangat besar. Apalagi, Kota Cimahi kini memiliki klub sepakbola PSKC yang sedang berlaga di Super Jalapa Liga 3 dengan target lolos ke Liga 2 pada musim depan, sehingga bakal membutuhkan stadion homebase.
Artikel Terkait: harga genteng
"Kita upayakan agar selesai sepenuhnya, meski bertahap tapi tidak terlalu lama. Masyarakat nanti bisa menikmati fasilitas yang ada di stadion itu," tandasnya.
Cara Indag Jawa Barat Memantau Besi Beton Tidak Sesuai Spesifikasi SNI
Sedikitnya lima merek dagang besi beton yang beredar di Kecamatan Soreang dan Cangkuang, Kabupaten Bandung terindikasi mengelabui konsumen. Ini karena meskipun mencantumkan label Standar Nasional Indonesia (SNI), ukuran produk tersebut tidak sesuai spesifikasi. Hal itu terungkap saat tim Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Indag) Jawa Barat melakukan inspeksi mendadak ke sejumlah penjual di dua kecamatan tersebut, Rabu, 14 Agustus 2019.
Baca Juga: seng galvalum
Kepala Bidang Perlindungan Konsumen pada Dinas Indag Jawa Barat Bismark mengatakan, pihaknya menggelar sidak tersebut sesuai dengan instruksi dari pusat. "Instruksi tersebut turun karena pusat sudah banyak menerima keluhan dari konsumen terkait besi beton yang tidak sesuai standar dan membahayakan konsumen saat digunakan untuk bangunan," ujarnya.
Dalam sidak kali ini, Bismark mengaku pihaknya menemukan sedikitnya lima merek dagang besi beton yang terindikasi mengelabui konsumen. Ia mencontohkan besi beton bermerek dagang PCI yang dijual di salah satu toko di Desa Sekarwangi, Kecamatan Soreang.
Merek dagang tersebut mendistribusikan besi beton dalam tiga ukuran diameter yaitu 8, 10 dan 12 milimeter yang sebenarnya mencantumkan label SNI di toko tersebut. Namun ukuran riilnya hanya 7,0 milimeter untuk besi 8; 8,8 milimeter untuk besi 10, dan 10,6 milimeter untuk besi 12.
Hal serupa ditemukan pada merek dagang MSI di Kecamatan Cangkuang yang hanya berukuran 7,46 milimeter untuk besi 8 dan 9,22 milimeter untuk besi 10. Selain itu ada juga besi 10 merek dagang DAS yang hanya berukuran riil 8,24 milimeter serta besi 12 merek SSTY berukuran 11,5 milimeter dan besi 8 merek JSM berukuran 7,03 milimeter.
"Standar toleransi yang diberikan hanya sekitar 0,4 milimeter. Jadi seharusnya kalau besi 12 ukuran riilnya minimal 11,6 milimeter. Begitu juga untuk besi 10 minimal 9,6 milimeter dan besi 8 minimal 7,6 milimeter," kata Bismark.
Menurut Bismark, temuan dalam sidak kali ini jauh berbeda dengan sebelumnya di wilayah Kota Bandung. "Di Kota Bandung kami tidak menemukan ukuran besi beton yang jauh di bawah standar toleransi," ucapnya.
Bismark menegaskan, pihaknya akan melaporkan temuan tersebut ke pemerintah pusat untuk ditindaklanjuti ke produsen atau distributornya. Sementara para penjual dibina untuk tidak lagi menerima besi beton tak sesuai standar dari distributor dan untuk barang yang sudah ada, mereka ditekankan untuk tidak menjualnya ke konsumen dan justru mengembalikannya ke distributor.
Sementara itu penjual besi beton di Soreang, David Gunawan (42) mengakui dirinya teledor karena tidak memeriksa kembali barang yang dikirim distributor. Namun ia sama sekali tidak mengetahui bahwa barang tersebut ternyata tidak sesuai ukuran semestinya.
"Sejauh ini tidak ada konsumen yang mengeluh, sehingga kami tidak tahu kalau ternyata tidak sesuai yang tertulis di produk. Yang kami tahu pokoknya hanya diperbolehkan menerima yang memiliki label SNI. Setelah tahu begini saya akan lapor ke distributor untuk mengembalikannya," kata David.
Pilihan Redaksi: harga list gypsum
Hal serupa diungkapkan oleh pedagang Kecamatan Cangkuang, Aceng (45) yang mengaku juga pernah didatangi aparat kepolisian sebelum didatangi tim dari Indag Jabar. "Gara-gara besi beton yang tidak sesuai standar SNI, toko saya pernah ditutup sampai sekitar sebulan untuk kepentingan penyelidikan," ujarnya.
Aceng mengaku hal itu cukup merugikan karena dalam sebulan tersebut ia tak mendapatkan penghasilan sama sekali. Bahkan setelah tokonya kembali buka pun, ia kehilangan banyak langganan yang lari ke toko lain.
"Padahal sebenarnya barang seperti itu juga dijual di toko lain, karena dulu saya jual yang sesuai standar harganya mahal jadi konsumen lari ke toko lain. Kalau memang aturan harus ditegakan saya akan ikuti, tetapi harus diterapkan untuk semua. Jangan sampai ada satu toko pun yang menjual besi beton yang tak sesuai standar," tutur Aceng.
Baca Juga: seng galvalum
Kepala Bidang Perlindungan Konsumen pada Dinas Indag Jawa Barat Bismark mengatakan, pihaknya menggelar sidak tersebut sesuai dengan instruksi dari pusat. "Instruksi tersebut turun karena pusat sudah banyak menerima keluhan dari konsumen terkait besi beton yang tidak sesuai standar dan membahayakan konsumen saat digunakan untuk bangunan," ujarnya.
Dalam sidak kali ini, Bismark mengaku pihaknya menemukan sedikitnya lima merek dagang besi beton yang terindikasi mengelabui konsumen. Ia mencontohkan besi beton bermerek dagang PCI yang dijual di salah satu toko di Desa Sekarwangi, Kecamatan Soreang.
Merek dagang tersebut mendistribusikan besi beton dalam tiga ukuran diameter yaitu 8, 10 dan 12 milimeter yang sebenarnya mencantumkan label SNI di toko tersebut. Namun ukuran riilnya hanya 7,0 milimeter untuk besi 8; 8,8 milimeter untuk besi 10, dan 10,6 milimeter untuk besi 12.
Hal serupa ditemukan pada merek dagang MSI di Kecamatan Cangkuang yang hanya berukuran 7,46 milimeter untuk besi 8 dan 9,22 milimeter untuk besi 10. Selain itu ada juga besi 10 merek dagang DAS yang hanya berukuran riil 8,24 milimeter serta besi 12 merek SSTY berukuran 11,5 milimeter dan besi 8 merek JSM berukuran 7,03 milimeter.
"Standar toleransi yang diberikan hanya sekitar 0,4 milimeter. Jadi seharusnya kalau besi 12 ukuran riilnya minimal 11,6 milimeter. Begitu juga untuk besi 10 minimal 9,6 milimeter dan besi 8 minimal 7,6 milimeter," kata Bismark.
Menurut Bismark, temuan dalam sidak kali ini jauh berbeda dengan sebelumnya di wilayah Kota Bandung. "Di Kota Bandung kami tidak menemukan ukuran besi beton yang jauh di bawah standar toleransi," ucapnya.
Bismark menegaskan, pihaknya akan melaporkan temuan tersebut ke pemerintah pusat untuk ditindaklanjuti ke produsen atau distributornya. Sementara para penjual dibina untuk tidak lagi menerima besi beton tak sesuai standar dari distributor dan untuk barang yang sudah ada, mereka ditekankan untuk tidak menjualnya ke konsumen dan justru mengembalikannya ke distributor.
Sementara itu penjual besi beton di Soreang, David Gunawan (42) mengakui dirinya teledor karena tidak memeriksa kembali barang yang dikirim distributor. Namun ia sama sekali tidak mengetahui bahwa barang tersebut ternyata tidak sesuai ukuran semestinya.
"Sejauh ini tidak ada konsumen yang mengeluh, sehingga kami tidak tahu kalau ternyata tidak sesuai yang tertulis di produk. Yang kami tahu pokoknya hanya diperbolehkan menerima yang memiliki label SNI. Setelah tahu begini saya akan lapor ke distributor untuk mengembalikannya," kata David.
Pilihan Redaksi: harga list gypsum
Hal serupa diungkapkan oleh pedagang Kecamatan Cangkuang, Aceng (45) yang mengaku juga pernah didatangi aparat kepolisian sebelum didatangi tim dari Indag Jabar. "Gara-gara besi beton yang tidak sesuai standar SNI, toko saya pernah ditutup sampai sekitar sebulan untuk kepentingan penyelidikan," ujarnya.
Aceng mengaku hal itu cukup merugikan karena dalam sebulan tersebut ia tak mendapatkan penghasilan sama sekali. Bahkan setelah tokonya kembali buka pun, ia kehilangan banyak langganan yang lari ke toko lain.
"Padahal sebenarnya barang seperti itu juga dijual di toko lain, karena dulu saya jual yang sesuai standar harganya mahal jadi konsumen lari ke toko lain. Kalau memang aturan harus ditegakan saya akan ikuti, tetapi harus diterapkan untuk semua. Jangan sampai ada satu toko pun yang menjual besi beton yang tak sesuai standar," tutur Aceng.
Rabu, 10 Juli 2019
Inilah Langkah Pemerintah Tangani Pembangunan Infrastruktur di Daerah Terluar
Penyiapan infrastruktur tak terbatas hanya dikhususkan untuk yang kakap. Kementerian Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat (PUPR) juga menangani penyediaan infrastruktur dasar yang membantu mobilitas masyarakat di wilayah terluar. Salah satunya, pembangunan jembatan gantung dan jalan lingkungan di Kampung Kaye Distrik Agats Kabupaten Asmat, Provinsi Papua.
Baca Juga: harga baja ringan
Pembangunan jalan dan jembatan gantung tersebut merupakan bagian dari sejumlah infrastruktur dasar yang dibangun Kementerian PUPR untuk mendukung peningkatan kualitas hidup masyarakat di Kabupaten Asmat yang mengalami wabah campak dan gizi buruk pada awal 2018 lalu.
Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono mengatakan, pihaknya telah memiliki daftar kegiatan pembangunan infrastruktur permukiman di Kabupaten Asmat, baik jangka pendek maupun menengah.
“Perbaikan dimulai dari infrastruktur air bersih, sanitasi, jembatan, perbaikan jalan kampung, bedah rumah, dan pembangunan permukiman baru,” kata Basuki dalam keterangannya, Selasa (9/7).
Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional XVIII Jayapura Osman Marbun menuturkan, tujuan utama dibangunnya jembatan gantung dan jalan lingkungan tersebut untuk memberikan kemudahan pergerakan antardesa serta membuka isolasi daerah yang terpisahkan sungai. Pembangunan jalan lingkungan menggunakan konstruksi jalan beton (pile slab) karena daerah Kabupaten Asmat merupakan daerah rawa.
“Untuk jalan dan jembatan sudah selesai pembangunan fisiknya. Sejak tahun 2018 Kementerian PUPR telah melakukan pembangunan fisik untuk masyarakat, hal ini agar rentang waktu dan jangkauan antar kampung, distrik untuk dapat dilalui dengan menyingkat jarak untuk meningkatkan ekonomi masyarakat setempat,” terangnya.
Dikatakan Osman, masyarakat sudah dapat menggunakan fasilitas jembatan gantung yang menghubungkan Kampung Keye menuju Ibu Kota Kabupaten Asmat, Agats. Pembangunan jembatan gantung dan jalan jembatan gantung sendiri menggunakan anggaran Kementerian PUPR dengan biaya Rp 89,1 milliar, yang telah dimulai sejak September 2018 dan selesai pada 30 Maret 2019.
Jembatan gantung tersebut dibangun sepanjang 72 meter dengan lebar 1,6 meter, sedangkan untuk jalan lingkungan yang dibangun sepanjang 2,9 km dengan lebar sebesar 4 meter. Pembangunannya dilakukan oleh kontraktor PT. Wijaya Karya dengan melibatkan pekerja lokal dari sejumlah kampung diantaranya Kaye, Syuru, dan Aswet.
Perkampungan di Kaye Distrik Agats Kabupaten Asmat, Provinsi Papua. (Dok.Biro Komunikasi Kementerian PUPR)
“Jalan dan jembatan yang dibangun ini mengeliling beberapa jalur tempat pemukiman masyarakat di Ibu Kota Agats Kabupaten Asmat, seperti di Kampung Kaye, Kampung Suru dan juga jalur jalan ketempat fasilitas umum lainya seperti ke rumah sakit baru dan museum Asmat. Sehingga keberadaannya akan sangat membantu aktivitas masyarakat di Asmat, termasuk akan meningkatkan perekonomian daerah setempat,” ujarnya.
Osman menambahkan, pada 2019 hingga 2020, Kementerian PUPR akan melanjutkan pembangunan jalan beton sepanjang 16 km, serta pembangunan 4 buah jembatan gantung dengan panjang total 330 meter yang akan dibangun pada beberapa distrik di Kabupaten Asmat. Pembangunan jembatan gantung juga sangat dibutuhkan untuk mendorong warga agar menempati rumah khusus yang telah dibangun Kementerian PUPR di sejumlah kampung yang terpisahkan sungai.
Artikel Terkait: ukuran kitchen set
Sebagaimana diketahui, sejak tahun 2016, Kementerian PUPR telah membangun 114 unit rumah khusus dengan biaya Rp 19,9 miliar di Kampung Amanamkai dan Kampung Syuru, Distrik Agats sebanyak 114 Unit. Tahun 2018 kembali dibangun sebanyak 100 unit rumah khusus yang tersebar di 4 kampung, yakni Kampung Priend Distrik Fayid (34 unit), Kampung Ass dan Kampung Atat Distrik Pulau Tiga (33 unit), dan Kampung Warkai Distrik Betsbamu (33 unit).
Baca Juga: harga baja ringan
Pembangunan jalan dan jembatan gantung tersebut merupakan bagian dari sejumlah infrastruktur dasar yang dibangun Kementerian PUPR untuk mendukung peningkatan kualitas hidup masyarakat di Kabupaten Asmat yang mengalami wabah campak dan gizi buruk pada awal 2018 lalu.
Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono mengatakan, pihaknya telah memiliki daftar kegiatan pembangunan infrastruktur permukiman di Kabupaten Asmat, baik jangka pendek maupun menengah.
“Perbaikan dimulai dari infrastruktur air bersih, sanitasi, jembatan, perbaikan jalan kampung, bedah rumah, dan pembangunan permukiman baru,” kata Basuki dalam keterangannya, Selasa (9/7).
Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional XVIII Jayapura Osman Marbun menuturkan, tujuan utama dibangunnya jembatan gantung dan jalan lingkungan tersebut untuk memberikan kemudahan pergerakan antardesa serta membuka isolasi daerah yang terpisahkan sungai. Pembangunan jalan lingkungan menggunakan konstruksi jalan beton (pile slab) karena daerah Kabupaten Asmat merupakan daerah rawa.
“Untuk jalan dan jembatan sudah selesai pembangunan fisiknya. Sejak tahun 2018 Kementerian PUPR telah melakukan pembangunan fisik untuk masyarakat, hal ini agar rentang waktu dan jangkauan antar kampung, distrik untuk dapat dilalui dengan menyingkat jarak untuk meningkatkan ekonomi masyarakat setempat,” terangnya.
Dikatakan Osman, masyarakat sudah dapat menggunakan fasilitas jembatan gantung yang menghubungkan Kampung Keye menuju Ibu Kota Kabupaten Asmat, Agats. Pembangunan jembatan gantung dan jalan jembatan gantung sendiri menggunakan anggaran Kementerian PUPR dengan biaya Rp 89,1 milliar, yang telah dimulai sejak September 2018 dan selesai pada 30 Maret 2019.
Jembatan gantung tersebut dibangun sepanjang 72 meter dengan lebar 1,6 meter, sedangkan untuk jalan lingkungan yang dibangun sepanjang 2,9 km dengan lebar sebesar 4 meter. Pembangunannya dilakukan oleh kontraktor PT. Wijaya Karya dengan melibatkan pekerja lokal dari sejumlah kampung diantaranya Kaye, Syuru, dan Aswet.
Perkampungan di Kaye Distrik Agats Kabupaten Asmat, Provinsi Papua. (Dok.Biro Komunikasi Kementerian PUPR)
“Jalan dan jembatan yang dibangun ini mengeliling beberapa jalur tempat pemukiman masyarakat di Ibu Kota Agats Kabupaten Asmat, seperti di Kampung Kaye, Kampung Suru dan juga jalur jalan ketempat fasilitas umum lainya seperti ke rumah sakit baru dan museum Asmat. Sehingga keberadaannya akan sangat membantu aktivitas masyarakat di Asmat, termasuk akan meningkatkan perekonomian daerah setempat,” ujarnya.
Osman menambahkan, pada 2019 hingga 2020, Kementerian PUPR akan melanjutkan pembangunan jalan beton sepanjang 16 km, serta pembangunan 4 buah jembatan gantung dengan panjang total 330 meter yang akan dibangun pada beberapa distrik di Kabupaten Asmat. Pembangunan jembatan gantung juga sangat dibutuhkan untuk mendorong warga agar menempati rumah khusus yang telah dibangun Kementerian PUPR di sejumlah kampung yang terpisahkan sungai.
Artikel Terkait: ukuran kitchen set
Sebagaimana diketahui, sejak tahun 2016, Kementerian PUPR telah membangun 114 unit rumah khusus dengan biaya Rp 19,9 miliar di Kampung Amanamkai dan Kampung Syuru, Distrik Agats sebanyak 114 Unit. Tahun 2018 kembali dibangun sebanyak 100 unit rumah khusus yang tersebar di 4 kampung, yakni Kampung Priend Distrik Fayid (34 unit), Kampung Ass dan Kampung Atat Distrik Pulau Tiga (33 unit), dan Kampung Warkai Distrik Betsbamu (33 unit).
Perajin Kayu yang Memberdayakan Para Difabel
Rully Novianto, seorang pengrajin kayu asal Dau, Kabupaten Malang, ingin membuktikan kalau anak-anak difabel juga bisa bekerja dan berkarya. Karena inilah, pada pertengahan Mei lalu, dia membuka pelatihan yang bertajuk ’Kelas Kayu’.
Tak hanya sekedar pelatihan, peserta dari pelatihan ini juga dilibatkan dalam proses produksi di 'bengkel kayu' Kajoetangan Woodcraft, yang berada di depan rumahnya. Meski istilahnya bengkel, tapi tidak seperti bengkel pada umumnya.
Baca Juga: jenis triplek
Di bengkel kayu, isinya adalah perlengkapan untuk memotong, menghaluskan, dan membentuk kayu. Serta terdapat juga tumpukan kayu-kayu serta furniture buatan tangan. Menariknya, para pekerja di sana mayoritas adalah teman-teman difabel. Ada yang harus memakai kruk untuk menyangga tubuhnya tapi begitu piawai dalam memotong kayu. Ada pula pria dengan kaki palsu atau prostetik yang begitu terampil dan telaten dalam memoles furniture almari. Seperti itulah suasana rumah Rully di daerah perumahan Omah Kampus, Dau, Kabupaten Malang.
Rully bercerita awal mula mengapa dirinya mengajak teman-teman difabel untuk bergabung dalalm pelatihan mengolah kayu, hingga bermitra dengannya."Saat itu saya dihubungi dari teman Difabel Creative Community (DC²) untuk memberikan pelatihan. Karena saya ingin bermanfaat, dan saat itu sama-sama membutuhkan, jadi langsung oke," ucapnya saat ditemui tugumalang.id, media online partner resmi kumparan.com, senin (19/6).
Ia beranggapan bahwa hal itu nantinya akan berbalik positif kepada dirinya."Menurut saya, yang lulus kelas kayu akan bermanfaat buat saya juga. Sebab nanti bisa jadi mitra," imbuhnya. Kelas Kayu yang digelar pada 19 Mei itu pun mengajarkan dasar-dasar untuk membuat kerajinan dari kayu, seperti pengenalan terhadap kayu, jenis-jenis mesin pengolah kerajinan kayu, serta proses finishing. "Bahkan saya ingin mereka ini nanti harus jadi bos-bos sendiri-sendiri," ujar pria kelahiran Jakarta tersebut.
Menurutnya, hal itu adalah proses belajar secara bersama-sama. Karena dirinya sebenarnya juga masih belajar. "Saya juga masih belajar, sebab pengaplikasian kayu ini sangat luas dan bermacam-macam," imbuh mantan fotografer sebuah media cetak di Malang ini. Ia menjelaskan bahwa saat ini di tempatnya membuat kerajinan kayu mulai dari gantungan kunci, hingga furniture seperti meja, kursi, hingga minibar dan kitchen set."Tapi untuk sekarang memang sebagian besar masih menyelesaikan orderan, ke depan rencananya juga lebih ke handycraft. Hanya saja saat ini kami tidak ingin pesanan jadi terbengkalai," terangnya.
Rully Novianto (tiga dari kanan) foto bersama dengan para difabel yang bekerjasama dengannya.(foto: Gigih Mazda/Tugu Malang).
Terkejut Saat Kelas Pelatihan yang Ia Buka, Didatangi oleh Mendikbud
Tak hanya itu, ia mengaku terkejut kala membuka kelas pelatihan Kelas Kayu tersebut. Bagaimana tidak, secara tiba-tiba, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Muhadjir Effendy datang memantau lokasi dan menyumbang alat pendukung untuk hal itu.
Momen ketika Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy hadir dalam acara pelatihan kayu yang digelar oleh Kajoetangan Woodcraft, Komunitas Bakarang Dau Woodworker, dan Difabel Creative Community (DC²).(foto dokumen).
"Jadi memang rencannya sudah dua bulan sebelumnya. Mungkin beliau tahu dari sana, kemudian sehari sebelum acara katanya Bapak Menteri mau datang, saat itu saya pesimis karena pasti agenda beliau padat. Tapi ternyata benar-benar datang, jadi waktu itu kaget. Dan saat itu suasana juga tidak formal untuk menyambut menteri," kenang Rully.
Artikel Terkait: harga semen 2019
Tak hanya itu, ia juga mengatakan bahwa pelatihan tersebut adalah kerja sama dari Kajoetangan Woodcraft, Komunitas Bakarang Dau Woodworker, dan Difabel Creative Community (DC²). Acaranya pun gratis tanpa dipungut sepeserpun. "Jadi itu semuanya tidak ada orientasi profit sama sekali. Semuanya gratis," imbuhnya.
Tak hanya sekedar pelatihan, peserta dari pelatihan ini juga dilibatkan dalam proses produksi di 'bengkel kayu' Kajoetangan Woodcraft, yang berada di depan rumahnya. Meski istilahnya bengkel, tapi tidak seperti bengkel pada umumnya.
Baca Juga: jenis triplek
Di bengkel kayu, isinya adalah perlengkapan untuk memotong, menghaluskan, dan membentuk kayu. Serta terdapat juga tumpukan kayu-kayu serta furniture buatan tangan. Menariknya, para pekerja di sana mayoritas adalah teman-teman difabel. Ada yang harus memakai kruk untuk menyangga tubuhnya tapi begitu piawai dalam memotong kayu. Ada pula pria dengan kaki palsu atau prostetik yang begitu terampil dan telaten dalam memoles furniture almari. Seperti itulah suasana rumah Rully di daerah perumahan Omah Kampus, Dau, Kabupaten Malang.
Rully bercerita awal mula mengapa dirinya mengajak teman-teman difabel untuk bergabung dalalm pelatihan mengolah kayu, hingga bermitra dengannya."Saat itu saya dihubungi dari teman Difabel Creative Community (DC²) untuk memberikan pelatihan. Karena saya ingin bermanfaat, dan saat itu sama-sama membutuhkan, jadi langsung oke," ucapnya saat ditemui tugumalang.id, media online partner resmi kumparan.com, senin (19/6).
Ia beranggapan bahwa hal itu nantinya akan berbalik positif kepada dirinya."Menurut saya, yang lulus kelas kayu akan bermanfaat buat saya juga. Sebab nanti bisa jadi mitra," imbuhnya. Kelas Kayu yang digelar pada 19 Mei itu pun mengajarkan dasar-dasar untuk membuat kerajinan dari kayu, seperti pengenalan terhadap kayu, jenis-jenis mesin pengolah kerajinan kayu, serta proses finishing. "Bahkan saya ingin mereka ini nanti harus jadi bos-bos sendiri-sendiri," ujar pria kelahiran Jakarta tersebut.
Menurutnya, hal itu adalah proses belajar secara bersama-sama. Karena dirinya sebenarnya juga masih belajar. "Saya juga masih belajar, sebab pengaplikasian kayu ini sangat luas dan bermacam-macam," imbuh mantan fotografer sebuah media cetak di Malang ini. Ia menjelaskan bahwa saat ini di tempatnya membuat kerajinan kayu mulai dari gantungan kunci, hingga furniture seperti meja, kursi, hingga minibar dan kitchen set."Tapi untuk sekarang memang sebagian besar masih menyelesaikan orderan, ke depan rencananya juga lebih ke handycraft. Hanya saja saat ini kami tidak ingin pesanan jadi terbengkalai," terangnya.
Rully Novianto (tiga dari kanan) foto bersama dengan para difabel yang bekerjasama dengannya.(foto: Gigih Mazda/Tugu Malang).
Terkejut Saat Kelas Pelatihan yang Ia Buka, Didatangi oleh Mendikbud
Tak hanya itu, ia mengaku terkejut kala membuka kelas pelatihan Kelas Kayu tersebut. Bagaimana tidak, secara tiba-tiba, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Muhadjir Effendy datang memantau lokasi dan menyumbang alat pendukung untuk hal itu.
Momen ketika Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy hadir dalam acara pelatihan kayu yang digelar oleh Kajoetangan Woodcraft, Komunitas Bakarang Dau Woodworker, dan Difabel Creative Community (DC²).(foto dokumen).
"Jadi memang rencannya sudah dua bulan sebelumnya. Mungkin beliau tahu dari sana, kemudian sehari sebelum acara katanya Bapak Menteri mau datang, saat itu saya pesimis karena pasti agenda beliau padat. Tapi ternyata benar-benar datang, jadi waktu itu kaget. Dan saat itu suasana juga tidak formal untuk menyambut menteri," kenang Rully.
Artikel Terkait: harga semen 2019
Tak hanya itu, ia juga mengatakan bahwa pelatihan tersebut adalah kerja sama dari Kajoetangan Woodcraft, Komunitas Bakarang Dau Woodworker, dan Difabel Creative Community (DC²). Acaranya pun gratis tanpa dipungut sepeserpun. "Jadi itu semuanya tidak ada orientasi profit sama sekali. Semuanya gratis," imbuhnya.
Alasan Pemerintah Diminta Pastikan Masyarakat Nikmati Pembangunan Infrastruktur
Anggota Komisi V DPR Bambang Haryo Soekartono meminta pemerintah untuk lebih serius dalam melakukan pembangunan infrastruktur.
Menurutnya, pembangunan infrastruktur di Indonesia belum sepenuhnya berefek maksimal dan berdampak baik bagi masyarakat.
Baca Juga: harga borongan bangunan
Dia mengatakan seharusnya makin banyak pihak yang diuntungkan dengan adanya pembangunan infrastruktur. Akan tetapi, malah sebaliknya sebagian masyarakat malah dirugikan.
"Kami melihat infrastruktur sudah dibangun begitu besar dengan nilai di kisaran Rp400 triliun. Akan tetapi hampir dikatakan hasilnya belum maksimal dan banyak pihak yang dirugikan," kata Bambang pada Selasa (9/7/2019).
Menurut politisi Partai Gerindra tersebut, pembangunan infrastruktur pada sektor pertanian tidak memberikan dampak positif terhadap swasembada pangan. Bahkan selama pembangunan infrastruktur itu juga terjadi korban jiwa selain banyak pelaku usaha Mikro, kecil, dan menengah (UMKM) turut merugi.
“Pembangunan infrastruktur seharusnya berdampak baik dan mempermudah masyarakat dalam menjalankan kehidupan sehari-hari yang mendasar,” ujarnya.
Di samping itu, lanjutnya, infrastruktur seharusnya juga memberikan jaminan ketersediaan yang menjadi kebutuhan dasar masyarakat.
Artikel Terkait: tangki air
Oleh karena itu, Bambang mengatakan jika permasalahan infrastruktur tersebut tidak ditangani secara cepat dan tepat, akan timbul kerugian yang begitu besar terhadap pihak-pihak terkait.
"Karena itulah kami minta pemerintah serius menangani masalah tersebut."
Menurutnya, pembangunan infrastruktur di Indonesia belum sepenuhnya berefek maksimal dan berdampak baik bagi masyarakat.
Baca Juga: harga borongan bangunan
Dia mengatakan seharusnya makin banyak pihak yang diuntungkan dengan adanya pembangunan infrastruktur. Akan tetapi, malah sebaliknya sebagian masyarakat malah dirugikan.
"Kami melihat infrastruktur sudah dibangun begitu besar dengan nilai di kisaran Rp400 triliun. Akan tetapi hampir dikatakan hasilnya belum maksimal dan banyak pihak yang dirugikan," kata Bambang pada Selasa (9/7/2019).
Menurut politisi Partai Gerindra tersebut, pembangunan infrastruktur pada sektor pertanian tidak memberikan dampak positif terhadap swasembada pangan. Bahkan selama pembangunan infrastruktur itu juga terjadi korban jiwa selain banyak pelaku usaha Mikro, kecil, dan menengah (UMKM) turut merugi.
“Pembangunan infrastruktur seharusnya berdampak baik dan mempermudah masyarakat dalam menjalankan kehidupan sehari-hari yang mendasar,” ujarnya.
Di samping itu, lanjutnya, infrastruktur seharusnya juga memberikan jaminan ketersediaan yang menjadi kebutuhan dasar masyarakat.
Artikel Terkait: tangki air
Oleh karena itu, Bambang mengatakan jika permasalahan infrastruktur tersebut tidak ditangani secara cepat dan tepat, akan timbul kerugian yang begitu besar terhadap pihak-pihak terkait.
"Karena itulah kami minta pemerintah serius menangani masalah tersebut."
Langganan:
Postingan (Atom)